oleh

Opini : Sikap Ilmiah Menghadapi Pandemik Covid – 19

OPINI, CARIBERITA.CO.ID – Dalam menghadapi setiap pandemi, tak terkecuali Covid-19, selalu ada sikap-sikap non-ilmiah yang beredar di masyarakat luas sebagai konstruksi berpikir untuk memahami pandemi tersebut. Sebagai konstruksi non-ilmiah, sikap-sikap tersebut tentu saja tidak berkorelasi langsung terhadap eksistensi pandemi tersebut dalam pengertian mencegah dan menghentikan penyebarannya. Alih-alih, konstruksi non-ilmiah tersebut justru semakin memperburuk keadaan persebaran pandemi dimaksud.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah kerendahhatian dari seluruh elemen masyarakat untuk menyerahkan penanganan pandemi Covid-19 kepada pihak-pihak yang memiliki otoritas terkait seperti WHO, Kemenkes dan pemerintah serta via Satgas Pencegahan Covid-19. Selebihnya, lembaga-lembaga non-otoritatif harus “tahu diri” untuk tidak mengintervensi lembaga-lembaga otoritatif dan memperburuk situasi. Ada sebuah ungkapan yang populer, jika Anda tidak dapat membantu menyelesaikan masalah, maka jangan menjadi bagian dari masalah tersebut.

Anakronisme perspektif
Yang harus dipikirkan dan disadari bersama sekarang ini adalah resiko tingkat mortalitas akibat hadirnya faktor-faktor penghambat penanganan wabah ini. Salah satu faktor yang dapat memperlambat, bahkan memperburuk, penanganan persebaran Covid-19 adalah anakronisme perspektif yang beredar luas di masyarakat. Yang dimaksud anakronisme perspektif di sini adalah cara pandang yang kurang tepat dalam menyikapi dan merespons penyebaran virus ini. Dalam banyak kasus, anakronisme ini membuncah menjadi semacam “kengototan” untuk tidak mengatakan kekonyolan sosial yang pada gilirannya turut menghambat penanganan Covid-19 ini.
Di antara sekian banyak anakronisme perspektif yang beredar di masyarakat, sekurangnya ada dua contoh yang paling mencolok.
Anakronisme yang pertama; anakronisme sosial-budaya. Sebagaimana dimaklumi, masyarakat kita dicirikan oleh budaya komunitarian-komunalistik. Dalam sebuah unit sosial yang saling berjejaring, Masyarakat kita dikenal memiliki ikatan sosiologis yang kuat melalui pola hidup gotong-royong sebagai bentuk kepedulian dan empati sosial kita kepada sesama. Ikatan sosiologis tersebut seringkali dimanifestasikan melalui sentuhan fisik seperti bersalaman, berpelukan, dan sebagainya.
Menghentikan setidaknya untuk sementara manifestasi komunitarian tersebut demi mencegah penyebaran Covid-19 tentu saja bukan persoalan mudah bagi masyarakat kita. Tentu saja ada perasaan ganjil, kikuk, dan tidak lazim ketika mereka mengabaikan “ritual sosial” sebagaimana biasanya. Pasti ada sesuatu yang hilang ketika masyarakat kita dipaksa menanggalkan kebiasaan sosial tersebut karena ada kontradiksi kognitif antara nalar kesehatan seperti menjaga jarak sosial (social distancing) dengan nalar komunitarian tersebut.

Pengabaian terhadap norma-norma sosial di atas tentu saja dapat menimbulkan gangguan sosial-budaya karena norma-norma tersebut telanjur membentuk gugusan kebermaknaan eksistensial dikalangan masyarakat kita. Dari sinilah sebagian masyarakat kita cenderung mengacuhkan protokol kesehatan atau medis pencegahan Covid-19 sebagaimana dikeluarkan oleh lembaga-lembaga otoritatif. Bagi sebagian mereka, protokol kesehatan dimaknai sebagai upaya mereduksi kebermaknaan sosial yang telah menancap kuat di masyarakat.
Anakronisme yang kedua; adalah konstruksi pemahaman keagamaan masyarakat kita yang berlawanan dengan protokol pencegahan Covid-19. Melalui beragam media sosial, kita disuguhi berbagai macam narasi keagamaan yang mengacuhkan, mereduksi, bahkan “melawan” protokol medis pencegahan Covid-19. Di antara narasi keagamaan yang cukup populer di masyarakat adalah menyangkut teologi kematian sebagai hak prerogatif Tuhan, pandemi Covid-19 sebagai adzab (hukuman) Tuhan atas dosa-dosa manusia, tidak perlu takut kepada siapapun termasuk kepada Covid-19 kecuali hanya kepada Tuhan, social distancing merupakan strategi mendangkalkan iman, dan seterusnya. Anakronisme pemahaman keagamaan yang seperti ini yang kontraproduktif dengan protokol medis pencegahan Covid-19 menjadi batu sandungan serius di tengah kerja keras semua pihak terutama tim medis sebagai garda terdepan yang paling beresiko dalam menjinakkan dan menghentikan penyebaran Covid-19. Padahal, masyarakat yang memiliki perspektif anakronistik tersebut pada ujungnya akan menjadi kelompok rentan terpapar terhadap virus ini jika mereka tetap melakukan pembangkangan. Ketika mereka menjadi mata rantai penularan Covid-19 ini, maka efek domino penyebarannya jelas akan merepotkan tim satgas penanganan Covid-19 dan pemerintah.

Nalar kesehatan
Jika dibiarkan dua contoh anakronisme perspektif di atas, maka akan menjadi penghambat penanganan persebaran pandemi Covid-19 yang pergerakannya semakin liar, masif, dan eksponensial. Wajar saja jika tingkat mortalitas akibat penyebaran virus ini di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia Tenggara (8,46%) akibat kengototan sikap-sikap non-ilmiah tersebut. Sikap semacam ini telanjur menciptakan zona nyaman bagi mereka yang tidak terbiasa dengan pola hidup disiplin dan taat asas (compliance), dua syarat utama untuk mempercepat penanganan Covid-19.
Sepanjang menyangkut cara berpikir dan gaya hidup individu yang tidak berdampak langsung terhadap kehidupan publik, anakronisme perspektif di atas barangkali tidak perlu dipermasalahkan. Namun jika sudah berlawanan dengan nalar kesehatan dan kebijakan publik, maka Negara memiliki otoritas untuk melakukan tindakan memaksa (coercive measures) dalam rangka menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang berbasis pada nalar kesehatan dan sikap-sikap ilmiah. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat tidak membebani negara dalam penanganan Covid-19. Sekali lagi, jika tidak bisa menjadi solusi, maka kita jangan menjadi bagian dari persoalan itu sendiri.
Sikap ilmiah yang dimaksud dalam memahami dan merespons pandemi Covid-19 mewujud dalam nalar induktif sebagai mekanisme memahami realitas sosial. Nalar induktif adalah mekanisme kognitif sebab-akibat berdasar pada realitas empiris kehidupan masyarakat. Sementara itu, nalar deduktif adalah realitas normatif yang jika diturunkan dalam realitas empiris tidak selalu diakronistik atau sejalan dengan konteks ruang dan waktu tertentu. Dalam kondisi demikian, maka yang terjadi adalah anakronisme perspektif sebagaimana dijelaskan di atas.
Konsekuensinya, menderivasi teks suci untuk menjustifikasi realitas pandemi Covid-19 juga tidak bisa dilakukan secara serampangan. Alih-alih, pendasaran nalar keagamaan dalam memahami pandemi ini hanya akan memperburuk situasi karena berlawanan dengan nalar kesehatan. Oleh karena itu, akan lebih bijak dan maslahat jika kita serahkan persoalan pandemi Covid-19 kepada ahlinya. Jangan ada kengototan-kengototan yang tak perlu. Nyawa kita jauh lebih berharga ketimbang memenangkan perdebatan publik terkait penanganan Covid-19.
Dalam nalar induktif ini, yang berlaku adalah argumentasi aposteriori (evidence-based), dan bukan argumentasi apriori. Mengikuti Immanuel Kant (1878), nalar apriori adalah kognisi matematis-logis dari sebuah konstruksi konsep tertentu. Sementara itu, nalar aposteriori adalah argumentasi yang dibangun dari serangkaian fakta empiris yang telah diujikan secara ketat di laboratorium atau realitas empiris. Dalam Bahasa Ibnu Taimiyah (w. 1328), kebenaran terletak pada realitas kehidupan, bukan di akal pikiran (al-haqiqah fi al-a’yan la fi al-adzhan). Sekalipun logis, tetapi tidak didukung oleh fakta empiris, tidak bisa dijadikan sebagai dasar argumentasi untuk pengambilan keputusan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Oleh : Aldiawan, S.Kom.I., M.Sos.
Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) STAIN Majene

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Topik Terkait