Indeks berita terkini dan terbaru hari ini
Baca :  Heboh Kopi Saset Mengandung Obat Kuat Viagra, BPOM: Terancam 5 Tahun Penjara, Denda Rp 5 Miliar

37+ Mockup Psd File Background

0

Cariberita.co.id – Kenaikan positivity rate perlu mendapat perhatian dari seluruh pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah daerah.

Hal ini diungkap oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, yang menyebut bahwa angka positivity rate di Indonesia saat ini menunjukkan potensi penularan cukup tinggi. Dari data dan analisis per 20 Februari 2022, angka positivity rate mingguan sebesar 17,61 persen.

Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan akhir Januari di kisaran 1 persen. Sebelumnya, angka ini berhasil dipertahankan di bawah standar WHO, yaitu kurang dari 5 persen, selama 135 hari berturut-turut atau sejak 17 September 2021 hingga 29 Januari 2022. Bahkan, angka terendah yang pernah dicapai yaitu 0,09 persen pada 12 Desember 2021.

“Kita perlu untuk tetap waspada mengingat tren kenaikan positivity rate mingguan masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan,” Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Kamis (24/2/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Baca Juga:
Duh! Dalam Sehari Ditemukan 963 Kasus COVID-19 di Sumsel

Ilustrasi Covid-19 (Pixabay)
Ilustrasi Covid-19 (Pixabay)

Meski demikian, kenaikan positivity rate mingguan saat ini lebih rendah dibanding pada masa gelombang Delta. Melihat kembali pada masa Delta, angka positivity rate bertahan di atas 20 persen selama 5 minggu berturut-turut. Bahkan, pernah mencapai angka mingguan tertinggi hingga 30,24 persen per 18 Juli 2021.

Sehingga angka positivity rate saat ini menggambarkan kondisi penularan yang jauh lebih rendah dibanding masa varian Delta.

Lalu, melihat jumlah orang yang dites juga saat ini lebih baik dibandingkan masa varian Delta. Dari data per 20 Februari 2022, melebihi 2 juta orang dites dalam 1 minggunya. Meski fluktuatif dalam 5 minggu terakhir, namun jumlahnya selalu bertahan di atas 1 juta orang tiap minggunya.

Baca :  Pasang Ring Jantung Bukan Berarti Bebas, Ini 3 Hal yang Harus Diperhatikan

Capaian ini sungguh baik karena jauh lebih tinggi dibanding pada masa gelombang Delta di kisaran 1 juta orang dalam 1 minggu. Terlebih pula, Indonesia juga sudah mencapai target testing WHO yaitu 1000 orang dites per 1 juta penduduk sejak Januari 2022.

Selanjutnya, dari metode testingnya, saat ini didominasi tujuan skrining. Hal ini terlihat dari tingginya proporsi antigen dibanding PCR. Sedangkan di masa gelombang Delta, proporsi testing cenderung berimbang. Hal ini juga dapat disebabkan karena varian Omicron memunculkan gejala yang lebih ringan bahkan tanpa gejala dibandingkan varian Delta dengan gejala yang lebih nyata.

Baca Juga:
Satgas COVID-19: Positivity Rate Rendah Kunci Produktivitas Masyarakat yang Aman

Karenanya, di masa Delta proporsi PCR sebagai alat peneguhan diagnosa lebih banyak, karena orang yang bergejala sedang hingga berat pun cenderung lebih banyak. Sementara di masa Omicron, orang cenderung bergejala ringan bahkan tanpa gejala, dan masih tetap beraktivitas normal.

Leave A Reply

Your email address will not be published.