Indeks berita terkini dan terbaru hari ini

Enam Fakta Pala Papua dalam Kehidupan Masyarakat Fakfak

0

Pala berkualitas tinggi tumbuh di Fakfak, Papua.

Cariberita.co.id, JAKARTA — Jauh sebelum masa Indonesia modern, rempah Nusantara sudah dikenal di dunia. Hal inilah yang kemudian menjadi incaran bangsa-bangsa lain, termasuk Inggris, Spanyol, dan Belanda pada masa kolonial.

Salah satu rempah yang tersohor adalah biji pala. Varian pala yang populer berasal dari Pulau Banda, Maluku. Selain itu, ada varietas lain yang juga berkualitas tinggi, yaitu pala yang berasal dari Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Lembaga penelitian nirlaba Indonesia, Yayasan Inobu, mengulas perbedaan antara pala Banda dan Papua. Pala Banda berbentuk bulat, sedangkan pala Papua berbentuk lonjong dengan ukuran lebih besar.

“Rasa daging buah pala Papua juga lebih manis dan tidak menyisakan rasa getir,” ungkap Sustainable Sourcing Manager Yayasan Inobu, Ofra Shinta Fitri, lewat pernyataan resminya, dikutip Senin (4/4/2022).

Co-founder Papua Muda Inspiratif, Nanny Uswanas, mengatakan bahwa daging buah pala sering digunakan sebagai pengganti jeruk dalam masakan masyarakat Fakfak. Nanny merupakan penduduk asli Fakfak.

Nanny menjelaskan bahwa 70 sampai 80 persen wilayah Kabupaten Fakfak merupakan hutan pala endemik. Bagi masyarakat Fakfak, pala tidak hanya berperan sebagai bahan makanan, melainkan juga memiliki fungsi lain. Berikut enam fakta soal pala Papua yang menarik untuk diketahui:

1. Ibu yang memberi kehidupan

Pohon pala di Fakfak dianggap seperti ibu sendiri oleh masyarakat setempat, karena pohon tersebut dinilai memberi kehidupan. Masyarakat setempat memberlakukan sanksi adat bagi siapa pun yang menebang pohon pala.

2. Alat barter pada zaman dahulu

Zaman dahulu, masyarakat Fakfak pesisir sudah menjalin hubungan perdagangan dengan bangsa lain. Dari cerita lisan turun-temurun di Fakfak, diketahui bahwa ekspor pala telah dilakukan sejak zaman Belanda. Proses ekspor pertama dilakukan dalam bentuk barter, yakni kegiatan tukar-menukar barang tanpa perantara uang.

3. Digunakan sebagai “bank hidup”

Umumnya, musim panen pala adalah dua kali setahun. Namun, terkadang di antara waktu panen tersebut terselip satu kali musim panen tambahan. Pala yang dipanen kadang digunakan masyarakat sebagai “dana” cadangan.

Hal tersebut dianggap sebagai “bank hidup”. Ketika akan mengadakan hajatan atau menyekolahkan anak, misalnya, masyarakat Fakfak tidak jarang menggadaikan pala kepada pengepul.

Leave A Reply

Your email address will not be published.