Indeks berita terkini dan terbaru hari ini
Baca :  Baru Jadi Ibu, Aurel Hermansyah Masih Takut Memandikan Baby Ameena

37+ Mockup Psd File Background

0

JAKARTA – Vision+ sebagai platform OTT ternama, kembali menghadirkan karya tontonan menarik terbaru bagi pemirsanya.

Kali ini, Vision+ berkolaborasi dengan Cretivox Broadcasting Network menghadirkan original series dokumenter terbaru berjudul “Katanya”. Series bergenre dokumenter satu mengangkat seputar mitos-mitos dan stigma yang kental di kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang sangat menarik untuk dibahas.


Vision+ Katanya

Tak main-main, series dokumenter Katanya ini ternyata sudah mulai digarap sejak 2020 sampai akhirnya bisa rilis dan disaksikan pada hari ini, Selasa 15 Maret 2022. Digarap selama dua tahun, Lukman Benjamin Mulya, CEO Cretivox membeberkan kendala yang dialami selama dua tahun ke belakang.

Ben, begitu ia akrab disapa mengaku kondisi pandemi Covid-19 memang membuat proses penggarapan Katanya jadi lebih menantang. Contohnya, jadwal molor karena para kru seperti host dan sutradara terinfeksi Covid-19.

“PPKM naik turun, terus mestinya kita syuting hari pertama, Ben hostnya kena Covid-19. Lalu akhirnya jadwal mundur sampai dua minggu. Terus sutradaranya juga sempat kena Covid, memang sempat chaos. Tapi gue netapin waktu itu, at least pokoknya series Katanya ini awal tahun 2022 sudah bisa rilis, karena memang sudah ngaret dari jadwal,” cerita Ben saat ditemui usai Konferensi Pers Series Katanya di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (15/3/2022).

Kendala syuting ternyata belum sampai di situ saja. Secara teknis, Ben mengisahkan proses riset untuk produksi satu episode saja, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab, para narasumber yang dipilih memang harus benar-benar kredibel dan berpengalaman di bidangnya.

Baca :  Stephen Chow Gelar Audisi Shaolin Women's Soccer, Syaratnya Enggak Boleh Jelek! : Okezone Celebrity

“Riset untuk satu episode itu panjang banget, kita harus pilih narsum yang tepat. Enggak bisa sembarangan, contoh untuk episode rumah tusuk sate. Kita pakai arsitek dan ahli fengshui, arsiteknya kita pilih yang memang pernah bikin rumah tusuk sate. Jadi memang harus legit dan punya pengalaman, jadi ya itu sih kendalanya secara teknis,” pungkas Ben.

(aln)

Leave A Reply

Your email address will not be published.